EUCALYPTUS

Posted: Maret 24, 2010 in kayu komersial

A. Umum

Sub jenis Eucalyptus spp, merupakan jenis yang tidak membutuhkan persyaratan
yang tinggi terhadap tanah dan tempat tumbuhnya. Kayunya mempunyai nilai
ekonomi yang cukup tinggi untuk dipakai sebagai kayu gergajian, konstruksi,
finir, plywood, furniture, dan bahan pembuatan pulp dan kertas. Oleh karena itu
jenis tanaman ini cenderung untuk selalu dikembangkan.
Jenis Eucalyptus termasuk jenis yang sepanjang tahun tetap hijau dan sangat
membutuhkan cahaya. Tanaman dapat bertunas kembali setelah dipangkas dan
agak tahan terhadap serangan rayap. Pertumbuhan tanaman ini tergolong cepat
terutama pada waktu muda. Sistem perakarannya yang masih muda cepat sekali
memanjang menembus ke dalam tanah. Intensitas penyebaran akarnya ke arah
bawah hampir sama banyaknya dengan ke arah samping.

B. Keterangan Botani

Eucalyptus spp. termasuk famili Myrtaceae, terdiri dari kurang lebih 700 jenis.
Jenis Eucalyptus dapat berupa semak atau perdu sampai mencapai ketinggian
100 meter umumnya berbatang bulat, lurus, tidak berbanir dan sedikit
bercabang. Pohon pada umumnya bertajuk sedikit ramping, ringan dan banyak
meloloskan sinar matahari. Percabangannya lebih banyak membuat sudut ke
atas, jarang-jarang dan daunnya tidak begitu lebat. Daunnya berbentuk lanset
hingga bulat telur memanjang dan bagian ujungnya runcing membentuk kait.
Pada pohon yang masih muda letak daunnya berhadapan bentuk dan ukurannya
sering berbeda dan lebih besar daripada pohon tua. Pada umur tua, letak daun
berselang-seling.
Ciri khas lainnya adalah sebagian atau seluruh kulitnya mengelupas dengan
bentuk kulit bermacam-macam mulai dari kasar dan berserabut, halus bersisik,
tebal bergaris-garis atau berlekuk-lekuk. Warna kulit mulai dari putih kelabu,
abu-abu muda, hijau kelabu sampai coklat, merah, sawo matang sampai coklat.

C. Tempat tumbuh

1. Penyebaran. Daerah penyebaran alaminya berada di sebelah Timur garis
Walace, mulai dari 7°’ LU sampai 43°39′ LS sebagian besar tumbuh di
Australia dan pulau-pulau di sekitarnya. Beberapa jenis tumbuh luas di Papua
New Guinea dan jenis-jenis tertentu terdapat di Sulawesi, Papua, Seram,
Philippina, pulau di Nusa Tenggara Timur dan Timor Timur.
2. Persyaratan tempat tumbuh.                 Jenis-jenis  Eucalyptus   terutama
menghendaki iklim bermusim (daerah arid) dan daerah yang beriklim basah
dari tipe hujan tropis. Jenis Eucalyptus tidak menuntut persyaratan yang
tinggi terhadap tempat tumbuhnya. Eucalyptus dapat tumbuh pada tanah
yang dangkal, berbatu-batu, lembab, berawa-rawa, secara periodik digenangi
air, dengan variasi kesuburan tanah mulai dari tanah-tanah kurus gersang
sampai pada tanah yang baik dan subur. Jenis Eucalyptus dapat tumbuh di
daerah beriklim A sampai C dan dapat dikembangkan mulai dari dataran
rendah sampai daerah pegunungan yang tingginya per tahun yang sesuai
bagi pertumbuhannya antara 0 – 1 bulan dan suhu rata-rata per tahun 20° –
32°C.

D. Persiapan lapangan

1. Penataan lapangan. Penataan areal penanaman dimaksudkan untuk
mengatur tempat dan waktu, pengawasan serta keperluan pengelolaan hutan
lebih lanjut. Areal dibagi menjadi blok-blok tata hutan dan blok dibagi lagi
menjadi petak-petak tata hutan. Unit-unit ini ditandai dengan patok dan
digambar di atas peta dengan skala 1 : 10.000. Batas-batas blok dapat di
pakai berupa abtas alam seperti sungai, punggung bukit atau batas buatan
seperti jalan, patok kayu atau beton.
2. Pembersihan lapangan. Beberapa kegiatan yang dilakukan sebelum
penanaman meliputi :
a.   Menebang pohon-pohon sisa dan meninggalkan pohon yang dilarang
ditebang
b.   Mengumpulkan semak belukar, alang-alang dan rumput-rumputan
c.   Sampah-sampah yang telah terkumpul dibakar
3. Pengolahan tanah. Pengolahan tanah diperlukan pada tanah-tanah yang
padat dengan cara sebagai berikut :
1.   Tanah dicangkul sedalam 20 – 25 cm kemudian dibalik
2.   Bungkalan-bungkalan tanah dihancurkan, akar-akar dikumpulkan,
dijemur dan dibakar
3.   Tanah pada jalur-jalur tanaman dihaluskan dan dibersihkan, kemudian
dibuat lubang tanaman.

E. Penanaman dan pemeliharaan

1. Sistem penanaman. Sistim penanaman yang dapat dipilih yaitu tumpangsari,
cemplongan dan jalur dengan cara sebagai berikut :
a.   Sistim tumpang sari. Dalam sistim ini pembuatan tanaman dilakukan
berdasarkan perjanjian antara pihak kehutanan dengan para petani peserta
tumpangsari selama jangka waktu 2,5 tahun. Lokasi tanaman untuk
keperluan tumpangsari harus memenuhi syarat-sayarat :
•   Tanah dalam keadaaan subur
•   Kemiringan areal tidak melebihi 40 %
•   Ketersediaan tenaga kerja cukup
•   Kebutuhan masyarakat terhadap tanah garapan
•    Dalam pelaksanaan tumpangsari perlu diperhatian hal-hal sebagai
berikut :
a) Pada jarak tanam 30 cm di sisi kiri-kanan larikan tanaman pokok dan
tanaman sela tidak diperkenankan ditanam palawija.
b) Tanaman palawaija yang menggangu pertumbuhan tanaman pokok
dan tanaman sela tidak diperkenankan untuk ditanam. Jenis-jenis
tanaman tersebut antara lain ketela pohon, ketela rambat, pisang,
sereh, kentang, kol dan akar wangi.
b.   Sistem cemplongan. Dalam sistim cemplongan tanaman pokok ditanam
dalam lubang pada larikan yang telah disiapkan, pembersihan hanya
dilakukan pada radius 1 – 2 meter di sekeliling lubang tanaman. Sistim ini
sangat baik dilakukan pada areal yang kemiringannya melebihi 40% (mudah
terkena erosi), areal hutan lindung dan di daerah yang sulit diperoleh tenaga
kerja.
c.   Sistim jalur. Pembuatan tanaman dengan sistim jalur pelaksanaannya
sama seperti sistim cemplongan, hanya pada sistim jalur pembersihan
lapangan dilakukan sepanjang larikan bakal tanaman.
2. Waktu penanaman. Penanaman dilakukan setelah hujan lebat turun pada
musim hujan, pada umumnya bulan Oktober sampai Januari. Pengamatan awal
hujan sangat penting, karena bibit yang baru ditanam memerlukan banyak air
dan udara lembab.
3. Pengangkutan bibit. Bibit yang telah diseleksi dimasukkan ke dalam keranjang
atau peti kemudian diangkut ke lokasi penanaman dengan hati-hati agar bibit
tanaman tidak mengalami kerusakan selama dalam perjalanan. Bibit disusun
rapat hingga tidak bergerak jika dibawa dan disarankan tidak ditumpuk. Bibit
yang diangkut diusahakan bibit yang sehat dan segar serta jumlahnya
disesuaikan dengan kemampuan menanam. Sebaiknya bibit dihindarkan dari
panas matahari dan supaya disimpan di tempat yang teduh dan terlindung.
4. Teknik penanaman. Bibit ditanam tegak sedalam leher akar. Apabila terdapat
akar yang menerobos keluar dari kantong plastik dipotong agar tidak terlipat dan
tertanam di dalam lubang tanaman. Sebelum ditanam tanah dalam kantong
plastik dipadatkan, kemudian kantong plastik dibuka perlahan-lahan lalu tanah
dan bibit dikeluarkan baru ditanam. Bibit ditanam berdiri tegak pada lubang yang
telah dibuat pada setiap ajir, kemudian diisi dengan tanah gembur, sampai leher
akar. Tanah yang ada di sekelilingnya ditekan agar menjadi padat.
5. Pemeliharaan. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan maka kegiatan
pemeliharaan ini mutlak dilaksanakan setiap 3 bulan sekali sampai tanaman
berumur 2 tahun setelah di lapangan dan pendangiran.
a. Penyiangan. Yang dimaksud penyiangan adalah pembebasan tanaman dari
belukar dan tumbuhan pengganggu lainnya. Jenis Eucalyptus merupakan
jenis cahaya dan penanamannya akan berhasil apabila dilakukan penyiangan
secara intensif. Oleh karena itu penyiangan sangat penting dan harus
dilaksanakan menurut kebutuhan, terutama dalam tahun pertama dan tahun
kedua. Setelah disiangi, tanah perlu digemburkan terutama tanah yang di
sekeliling lubang tanam.
b. Penyulaman. Penyulaman dilakukan dalam tahun pertama dan tahun kedua
selama musim hujan dalam tahun pertama, tanaman yang mati atau merana
disulam dengan bibit dari persemaian. Penyulaman dalam tahun kedua
dilakukan pada saat hujan pertama jatuh.
c. Pemupukan. Pemupukan dilakukan bersamaan dengan kegiatan penyiangan
dan pendangiran, dimana pupuk NPK, (KCL : TSP : Urea) dengan
perbandingan 1 : 2 : 1 ditaburkan disekitar lubang tanam, banyaknya pupuk
sesuai dengan pengalaman pemberian pupuk di lapangan
6. Hama dan penyakit. Hama dan penyakit yang menyerang tanaman Eucalyptus
adalah :
a. Busuk akar. Bagian tanaman yang diserang adalah banir dan akar. Pada kulit
terdapat benang-benang berwarna putih yang apabila dibasahi berwarna
kuning dan rontok, ranting mati. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk
mengatasi busuk akar, yaitu pohon yang sakit ditebang, tunggak dan akar
dibongkar.
b. Rengas, rinyuh atau rayap (Coptotermes curvignatus). Bagian yang diserang
adalah batang dan akar. Rayap mulai menyerang dari akar samping atau akar
tunggang. Tanda yang lain yang dapat dilihat yaitu pangkal batang dari
pohon yang terserang berwarna coklat hitam. Untuk mengatasinya dapat
dilakukan dengan menghancurkan sarangnya atau mencampur insektisita
tertentu di sekitar tanaman misalnya dieldrin atau aldrin.
c. Cendawan akar putih (Corticium salmonicolor). Bagian yang diserang
biasanya bagian bawah dari cabang dan ranting. Bagian tersebut akan
tampak adanya lapisan benang-benang cendawan yang berwarna putih yang
lama-kelamaan menjadi merah jingga. Kulit pohon di bawah benang menjadi
belah dan busuk. Cara untuk mengatasinya dengan memperbanyak
masuknya udara dan sinar matahari. Serangan yang masih baru diberik
fungisida kemudian dikupas dan dibakar. Apabila serangan sudah lanjut,
pohon ditebang dan dibakar.
d.  Cendawan akar merah (Ganoderma pseudoferreum). Akibat serangan ini
pohon menjadi layu dan merana dan bila serangan sudah lanjut pohon akan
mati. Cara mengatasinya dengan menebang pohon yang sakit, membongkar
tunggak dan akarnya dibakar atau dengan menggunakan fungisida pada
bekas tanaman atau pohon yang diserang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s