TYPES OF BAMBOO IN INDONESIA

Posted: Maret 25, 2011 in Tak Berkategori
No.
Nama botanis
Sinonim
Nama lokal dan penyebaran
1.
Bambusa atra Lindley
Bambusa lineata Munro
Bambusa rumphiana Kurz
Dendrocalamus latifolius Laut & K. Shum
Loleba (Maluku, Nena (Shanghai)
2.
Bambusa amahussana Lindley
-
Nitu (Ambon)
3.
Bambusa bambos (L) Voss
Arendo bambos L
Bambusa arundinaceaI (Retz) Willd
Bambusa spinosa Roxb
Bambu duri (Indonesia), Pring ori (Jawa)
4.
Bambusa blumeana J.A. & J.H. Schultes
Bambusa spinosa Blume ex ness
Bambusa purens Blanco
Bambuss arundo Blanco
Bambu duri (Indonesia), Haur cucuk (Sunda), Pring gesing (Jawa)
5.
Bambusa forbesii (Ridley) Holtum
-
Sasa, akoya, warire (Irian)
6.
Bambusa multiplex (Lour) Raeuschel ex J.A. & J.H. Schultes
Arundo multiplex (Lour.)
Bambusa nana (Roxb)
Bambusa glaucescens (Willd) Sieb ex Munro
Bambu krisik hijau, Krisik putih, Bambu pagar, Bambu cina (Indonesia), Aor selat (Kalimantan Barat)
7.
Bambusa tuldoides Munro
Bambusa pallescens (Doell) Hackel
Bambusa vertricosa Mc. Clure Bambusa W.T. Lin
longiflora
Bambu krisik hijau, krisik
8.
Bambusa vulgaris Schrad ex Wendl
Bambusa thouarsii Kunth
Bambusa surinamensis Ruprecht
Ampel hijau tua, Ampel hijau muda, Pring gading, Pring tutul (Indonesia)
9.
Dendrocalamus asper (Roem. & Schultf.) Backer ex Heyne.
Bambusa asperaSchultes
Dendrocalamus flagelifer
Gigantochloa aspera Schultes F. Kurtz
Dendrocalamus merrilianus (Elmer) Elmer
Bambu petung (Indonesia), Petung coklat (Bengkulu), Petung hijau (Lampung), Petung hitam (Banyuwangi)
10.
Dendrocalamus giganteus Wallich ex. Munro (figure-1) & figure-2
Bambusa gigantea Wallich
Bambu sembilang (Indonesia)
11.
Dendrocalamus latiflorus Munro
Bambusa latiflora (Munro) Sinoca lamus latiflorus (Munro) Mc Clure
Bambu taiwan (Indonesia0
12.
Dinochloa scadens
-
Cangkoreh (Sunda)
13.
Gigantochloa achmadii
-
Buluh apo (Sumatera Barat)
14.
Gigantochloa apus Kurz
Bambusa apus J.A. & Schultes
Gigantochloa Kurzii Gamble
Bambu tali (Indonesia)
15.
Gigantochloa atroviolacea Widjaja
Gigantochloa verticillata (Willd) sensu Backer
Bambu hitam (Indonesia), Pring wulung (Jawa), Awi hideung (Sunda)
16.
Gigantochloa atter (Hassk) Kurz ex Munro
Bambusa thouarsii Kunth var atter Hassk
Gigantochloa verticillata (Wild) Munro sensu Backer
Bambu ater (Indonesia), Pring benel, Pring jawa (Jawa), Awi temen (Sunda)
17.
Gigantochloa balui K.M. Wong
-
Buluh abe (Kalimantan)
18.
Gigantochloa hasskarliana (Kurz)
Gigantochloa hasskarlianum Kurz
Awi lengka tali (Sunda), Bulok busi (Dayak), Buluh sorik (Tapanuli).
19.
Gigantochloa levis (Blanco)
Bambusa levis Blanco
Gigantochloa scribneriana Merril
Dinochloa curranii Gamble
Pring peting (Banyuwangi), Buluh suluk (Kalimantan Selatan)
20.
Gigantochloa manggong Widjaja
-
Pring manggong (Banyuwangi)
21.
Gigantochloa nigrociliata (Buse)
Bambusa nigrociliata Buse oxytenan thera nigroci liata Buse Munro
-
22.
Gigantochloa pruriens Widjaja
-
Buluh belangke, buluh regen (Karo), Buluh yakyak (Gayo)
23.
Gigantochloa pseudoarundinacea Widjaja
(Steudel)
Bambusa pseudoarun dinacea Steudel
Gigantochloa verticillata (Wild) Munro
Gigantochloa maxima Kurz
Awi andong besar, Andong leutik, Andong kapas, Andong batu (Sunda), Pring gombong, Pring surat (Jawa)
24.
Gigantochloa ridleyi Holtum
-
Tiying, Tiying aya (Bali)
25.
Gigantochloa robusta Kurz
Gigantochloa verticillata (Willd) Munro sensu Backer
Awi mayan (Sunda), Pring serit (jawa)
26.
Gigantochloa scortechinii
-
Buluh kapal (Bengkulu)
27.
Gigantochloa wrayi Gamble
Gigantochloa kurzii Gamble
Gigantochloa maxima Kurz. var viridis Holtum
Buluh dabo (Sumatera)
28.
Nastus elegntissimus
-
Awi eul-eul (Sunda)
29.
Phyllostachys aurea Carr. ex A & Riviere
Phyllostachys bambusoides Sieb & Zucc. var aurea (A&C) Riviere Makino
Phyllostachys formosana Hayata
Pring cendani (Jawa), Awi uncue (Sunda)
30.
Schizostachyum blumei Ness
Melocana zollinger Steudel var. longispi culata Kurz ex Munro S. Longis piculatum (Kurz ex Munro) Kurz
Awi tamiyang (Sunda)
31.
Schizostachyum brachycladun Kurz
-
Bambu lemang kuning, Lemang hijau (Indonesia), Buluh tolang, Buluh sero (Maluku), Pring lampar (Banyuwangi)
32.
Schizostachyum caudatum Backer
-
Buluh bungkok, buluh batu (Sumatera selatan)
33.
Schizostachyum gracile
-
Buluh alor (Bintan)
34.
Schizostachyum grandle Ridley
-
Buluh lemang (Sumatera)
35.
Siraten steudel
Schizostachyum biflorum McClure
Awi bunar (Sunda), Pring wuluh (Jawa)
36.
Schizostachyum latifolium Gamble
Schizostachyum longisipiculatum (Kurz ex Munro) Kurz sensu, Holtum ochlandran ridleyi Gamble, Schizostachyum ridleyi
(Gamble) Holtum
Buluh suling (Sumatera utara)
37.
Schizostachyum lima (Blanco)
Bambusa lama (Blanco), Schizostachyumhallieri Gamble
Buluh toi (Maluku)

Posted: April 29, 2010 in Tak Berkategori
LINGKUNGAN HUTAN TROPISA. Lokasi Hutan Tropis

Secara geografis daerah tropis mencakup wilayah yang terletak di antara titik balik rasi bintang Cancer dan rasi bintang Capricornus, yaitu antara 23°27’ Lintang Utara dan 23°27’ Lintang Selatan. Meliputi wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara, Australia bagian Utara, sebagian besar wilayah Afrika, Kepulauan Pasifik, Amerika Tengah dan sebagian besar wilayah Amerika Selatan.

Menurut Koeppen (1930) daerah tropis adalah wilayah yang terletak di antara garis isoterm 180 C bulan terdingin. Daerah tropis secara keseluruhan mencakup 30 % dari luas permukaan bumi. Hutan Tropis merupakan hutan yang berada di daerah tropis.

silvikultur hutan alam tropika

Perbaikan Kesuburan Tanah Oleh Agroforestri

Prospek Pengembangan Ekowisata Kawasan Wisata Alam Laut Pulau Marsegu dan Sekitarnya

Pemanfaatan Hutan Mangrove Teluk Kotania Kabupaten Seram Barat Maluku

Menebang Hutan untuk Menyukseskan Program GERHAN

rain forest

Peta Lokasi Daerah Tropis

//
//

B. Faktor Iklim

Di bawah ini akan diuraikan beberapa faktor iklim daerah tropis yang erat kaitannya dengan aspek silvikultur.

1.Temperatur

Suhu udara rata-rata tahunan di daerah tropis umumnya tinggi (di atas 180°C dengan perubahan antara suhu rata-rata pada bulan terpanasdan terdingin sangat rendah. Jadi dapat dikatakan bahwa di daerah tropis ini suhu udara hampir sama sepanjang tahun. Perubahan suhu harian, antara suhu minimum dan maksimum harian cukup tinggi. Sebagai contoh disampaikan keadaan temperatur udara di Bogor (300 m dpl) sebagai berikut :

Suhu Rata-Rata Bulanan
Maksimum (Juli) 25,3°C
Minimum (Juni) 24,3°C
Perbedaan 1,0°C
Suhu Rata-Rata Harian
Maksimum (Pkl 14.00) 32,4°C
Minimum (Pkl 06.00) 23,4°C
Perbedaan 9,0°C

Perbedaan suhu akan berkaitan pula dengan tinggi tempat di atas permukaan laut (d.p.l). Semakin tinggi suatu tempat suhu akan semakin turun, rata-rata setiap penambahan tinggi suatu sebesar 100 m suhu akan turun 0,4 – 0,7°C.

2. Curah Hujan

Curah hujan di daerah tropis umumnya tinggi. Di sekitar equator (Lintang 00) mempunyai curah hujan yang tertinggi dan semakin jauh dari equator curah hujan akan semakin berkurang.
Matahari akan berada tepat diatas equator (zenit) dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Maret dan September. Pada saat matahari berada tepat di atas equator akan terjadi pemanasan yang tinggi, udara lembab akan bergerak naik dan menjadi dingin sehingga akan terbentuk awan yang selanjutnya akan turun kembali sebagai hujan.

Pembentukan awan hujan juga dipengaruhi oleh angin, yaitu angin Pasat Timur Laut dan angin Pasat Tenggara, dan untuk daerah Asia Tenggara dipengaruhi pula oleh adanya angin Monsun (angin Musim), yaitu angin Monsun Timur Laut dan angin Monsun Tenggara.

Adanya angin tersebut akan menimbulkan adanya periodisasi curah hujan, yaitu adanya musim penghujan dan musim kemarau. Hal ini mempunyai arti penting baik bagi vegetasi secara umum maupun dalam hal pemanfaatan lahan.

Besar kecilnya curah hujan di daerah tropis juga dipengaruhi oleh tinggi tempat dan jarak tempat dari permukaan laut. Pada suatu wilayah pegunungan curah hujan akan semakin besar dengan bertambahnya ketinggian tempat namun pada tempat yang lebih tinggi lagi curah hujannya semakin berkurang (Lauer, 1976 dalam Weidelt, 1995).

Ciri lain curah hujan di wilayah tropis adalah adalah tingginya intensitas curah hujan. Sebagai contoh : tahun 1974 di daerah Honduras terjadi curah hujan sebesar 1.000 mm dalam kurun waktu 48 jam, di Baguio (Filiphina) tercatat curah hujan sebesar 1.130 mm dalam 24 jam dan di Venezuela sebesar 1.200 mm hanya dalam jangka waktu 4 jam.

3. Cahaya

Daerah tropis mempunyai lama penyinaran matahari yang tinggi dan merata sepanjang tahun dengan perbedaan yang sangat rendah. Radiasi sinar matahari dengan intensitas yang tinggi akan berkurang dengan adanya awan dan kelembaban udara yang tinggi.

Di Hutan hanya pohon-pohon yang tertinggi saja yang menerima cahaya secara penuh. Perlindungan terhadap tingginya intensitas cahaya dilakukan antara lain : warna daun muda yang merah kecoklatan, panphotometri dan adanya permukaan tajuk yang mengkilat.

Pada lapisan tajuk bagian bawah intensitas cahaya akan semakin berkurang dan intensitas cahaya yang dapat mencapai permukaan tanah hanya sekitar 1%. Cahaya merupakan faktor yang sangat penting terutama untuk ruangan di antara lapisan tajuk bagian tengah dan permukaan tanah, dimana pada ruangan tersebut terdapat permudaan berbagai jenis pohon.

C. Tanah

Hutan Tanah hutan tropis mempunyai ciri yang berbeda dengan jenis tanah di wilayah iklim yang lain, oleh sebab itu tanah hutan tropis dapat dipisahkan dalam satu cabang keilmuan tersendiri, yang nantinya akan sangat bermanfaat bagi silvikultur hutan tropis.

Perkembangan tanah yang berlangsung sangat lama dan tanpa adanya gangguan, tingginya curah hujan dan suhu udara menyebabkan terjadinya proses pelapukan yang intensif dan pencucian yang dalam. Akibatnya tanah hutan tropis mengandung unsur-unsur hara yang sangat berbeda dengan batuan induknya, miskin akan unsur mineral dan mempunyai kandungan Fe dan Al yang tinggi.

Kandungan mineral Liat Sekunder (kaolinit dan gibsit) cukup tinggi dan apabilan dibandingkan dengan mineral lempung primer (illit dan montmorilonit), mineral sekunder tersebut mempunyai Kapasitas Pertukaran Kation (KTK) yang lebih rendah. Fungsi penyimpanan unsur hara pada hutan tropis yang belum terganggu dilakukan oleh lapisan humus. Lapisan humus ini mempunyai KTK yang sangat tinggi, lebih tinggi dibandingkan illit dan montmorilonit.

Walaupun produktivitas bahan organik di daerah tropis sangat tinggi (sekitar 10-20 ton/ha/tahun), tetapi hutan tidak kaya akan humus. Lapisan humus hanya terbatas pada lapisan tanah bagian atas. Pelapukan yang diikuti dengan proses mineralisasi berlangsung cepat (hanya dalam beberapa bulan); sekitar 0,4-0,6% per hari di hutan dataran rendah dan antara 0,2-0,4 persen per hari di hutan dataran tinggi. Adanya proses tersebut menyebabkan kandungan humus selalu mencukupi, yang selanjutnya akan mendukung penyediaan unsur hara untuk vegetasi di atasnya.

Unsur hara yang dapat dimanfaatkan tumbuhan hanya ada dipermukaan tanah, terkonsentrasi pada lapisan humus. Penyerapan unsur hara tersebut oleh tumbuhan didukung adanya sistem perakaran dengan akar rambut yang tebal dan adanya mikoriza. Hal ini menyebabkan penyerapan unsur hara oleh tumbuhan menjadi lebih optimal.

Dengan adanya proses pemupukan alami dan didukung sistem penyerapan unsur hara yang optimal tanah hutan tropis yang miskin mampu mendukung kehidupan tegakan diatasnya. Dapat dikatakan bahwa dalam siklus hara yang tertutup tersebut kandungan unsur hara terbesar terletak pada vegetasi atau tegakan hutan. Penelitian Ruhiyat (1983) di Kalimantan Timur tentang komposisi unsur hara di dalam tanah dan pada vegetasi adalah sebagai berikut :

VEGETASI
K 70%
Mg 73%
Ca 94%
N 16%
|
|
|
|
TANAH
K 30%
Mg 27%
Ca 6%
N 84%

Gambar Hubungan Kandungan Unsur Hara di dalam Vegetasi dan di dalam Tanah
Sumber : Ruhiyat (1983) dalam Weidelt (1995)

Peranan vegetasi dalam ekosistem hutan tropis ini akan semakin terlihat apabila sistem atau siklus hara tertutup tersebut mengalami gangguan, sebagai contoh adalah adanya perladangan berpindah. Sistem perladangan berpindah yang dilakukan dengan tebas dan bakar (slash and burn) pada awalnya kesuburan tanahnya tinggi, bahan-bahan organik yang terbakar berfungsi pula sebagai pupuk. Namun dalam kasus ini tanah hutan akan kehilangan fungsinya, yaitu fungsi-fungsi penyaring dan pemompa. Akan lebih parah lagi apabila lapisan humus yang ada juga mengalami kerusakan , hal ini menyebabkan turunnya KPK. Hal lain yang hilang karena kebakaran adalah mikoriza dalam tanah. Kesuburan tanah akan menurun setelah panen pertama dan apabila dilanjutkan tanah akan semakin kurus atau tandus.

D. Peranan Manusia

Campur tangan manusia pada ekosistem hutan alam pada umumnya merupakan gangguan terhadap ekosistem tersebut. Bentuk campur tangan tersebut dapat berupa perladangan berpindah, konversi untuk penggunaan yang lain, kegiatan pembalakan hutan dan lain-lain.

Perladangan berpindah merupakan sistem pemanfaatan landang tradisional. Sistem ini tidak hanya dikenal di Indonesia, namun dilakukan pula di beberapa daerah tropis lainnya, seperti Filiphina dengan istilah Kaingin, Mexiko dan Amerika Tengah dengan istilah Milpa, di Venezuela dengan istilah Conuco, di Kolumbia disebut Colono dan di Brasilia dengan istilah Roca.

Konversi hutan tropis untuk penggunaan yang lain juga banyak terjadi. Sebagai contoh adalah perubahan lahan hutan tropis menjadi padang rumput untuk kepentingan peternakan. Perubahan menjadi areal penggembalaan tidak hanya merusak vegetasi namun juga mengakibatkan kerusakan tanah hutan tropis.

Pengaruh yang lain adalah adanya pemanfaatan hasil hutan oleh manusia, baik dalam bentuk kayu (kayu perkakas, kayu bakar) dan juga pemanfaatan hasil hutan non kayu. Kebutuhan kayu sebagai bahan bakar (kayu bakar) di negara-negara tropis sangat tinggi. Lebih dari 80 % konsumsi kayu adalah untuk kayu bakar.

E. Faktor Abiotis dan Faktor Biotis Lainnya

Faktor-faktor lain yang berpengaruh, baik faktor abiotis dan faktor biotis mencakup angin, aktivitas vulkanik, api serta binatang.

1. Angin
Angin dapat pula dimasukkan dalam faktor iklim. Efek Mekanis dan fisiologis angin terhadap vegetasi seperti halnya yang terjadi pada wilayah iklim campuran. Hal yang tidak dapat dibandingkan adalah seringnya terjadi badai di daerah tropis atau siklon tropis. Adanya siklon ini sangat membahayakan tegakan, tidak hanya merusak hutan alam yang ada, merusak suksesi yang telah berlangsung dan bahkan lebih berbahaya untuk hutan tanaman.

Hutan dapat mengurangi kecepatan pergerakan angin. Freise (1936) dalam Weidelt (1995) telah mengukur kecepatan angin di hutan hujan tropis di wilayah Brasilia bagian Selatan. Hasil Pengukuran adalah sebagai berikut :

LOKASI PENGUKURAN KECEPATAN ANGIN
Tempat Terbuka
(150 m dari tepi hutan)
0,63 km/jam
100 m di dalam tegakan 0,13 km/jam
1100m di dalam tegakan 0 km / jam (tidak ada angin

Angin merupakan faktor lingkungan yang penting, yang berperan dalam mengalirkan udara baru yang banyak mengandung karbondioksida. Apabila tidak ada angin kandungan karbondioksida dalam hutan tidak tercukupi.

2. Aktivitas Vulkanik

Di beberapa wilayah tropis kegiatan gunung berapi dapat membawa akibat yang cukup panjang pada lingkungan. Lava atau material panas yang lain dapat melumat seluruh hutan yang ada. Areal yang luas akan tertutup oleh hujan debu. Pengaruh terhadap tempat tumbuh dalam jangka pendek tidak menguntungkan, namun dalam jangka panjang kegiatan vulkanis itu akan menguntungkan (kesuburan tanah).

3. Binatang

Binatang dalam kaitannya dengan ekosistem hutan dapat berperan positif dan negatif. Binatang dapat menimbulkan kerusakan, dari kerusakan yang kecil sampai besar. Sebaliknya binatang juga mampu membantu dalam proses penyerbukan dan perkembangbiakan.

4. Api

Api juga merupakan faktor lingkungan yang penting. Bahaya api akan semakin besar dengan meningkatnya intensitas kekeringan. Suatu savana yang luas terbentuk karena adanya kebakaran yang tidak teratur dalam jangka waktu tertentu. Sabana dalam ekologi dapat disebut sebagai klimaks api.

Apabila kebakaran lebih sering terjadi, suatu tempat yang semula berupa hutan yang hijau di musim penghujan akan berubah struktur vegetasinya. Pada umumnya vegetasi yang ada akan bergeser, hanya jenis-jenis yang mampudi tempat kering, miskin hara saja yang dapat bertahan.

Sebagai contoh : Hutan tropis kering yang kaya akan jenis di Afrika terdegradasi berubah menjadi Savana Akasia.

Kebakaran hutan juga dapat terjadi karena petir atau pemanasan alamiah, namun kebanyakan disebabkan ulah manusia baik secara langsung ataupun tidak langsung. Menurut Maxwald (1982) dalam Weidelt (1995) kebakaran hutan yang terjadi di Venezuela 98% disebabkan oleh ulah manusia. Api dapat berasal dari sistem pembukaan ladang, para pemburu dan sering pula karena kelalaian dan ketidak sengajaan.

RANGKUMAN

1. Daerah tropis merupakan daerah yang terletak antara 23027’ Lintang Utara dan 23027’ Lintang Selatan dan berada di antara garis isoterm 180C bulan terdingin.
2. Faktor-Faktor iklim yang penting di daerah tropis yang erat kaitannya dengan aspek silvikultur ialah Suhu Udara, Curah Hujan dan Cahaya.
3. Tanah hutan di daerah tropis memiliki KTK yang rendah, untuk menunjang pertumbuhan vegetasi di atasnya maka di Hutan Tropis terjadi Siklus Hara Tertutup
4. Manusia di daerah tropis turut berperan bagi hutan tropis, sebagian peranan manusia yaitu dalam konversi lahan hutan menjadi areal penggunaan lainnya.
5. Faktor-faktor abiotis dan biotis yang turut berpengaruh terhadap hutan di daerah tropis antara lain angin, aktivitas vulkanik, aktivitas binatang dan api.

DAFTAR PUSTAKA
Weidelt, H. J, 1995, Silvikultur Hutan Alam Tropika (Diterjemahkan oleh : Nunuk Supriyanto), Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta.

Ekologi Hutan

Posted: Maret 27, 2010 in kayu komersial

1. Pengertian Ekologi Hutan

Istilah Ekologi diperkenalkan oleh Ernest Haeckel (1869), berasal dari bahasa Yunani, yaitu :
Oikos = Tempat Tinggal (rumah)
Logos = Ilmu, telaah

Oleh karena itu Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan sesamanya dan dengan lingkungnya.

Odum (1993) menyatakan bahwa ekologi adalah suatu studi tentang struktur dan fungsi ekosistem atau alam dan manusia sebagai bagiannya. Struktur ekosistem menunjukkan suatu keadaan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu termasuk keadaan densitas organisme, biomassa, penyebaran materi (unsur hara), energi, serta faktor-faktor fisik dan kimia lainnya yang menciptakan keadaan sistem tersebut.

ekosistem hutan

Perbaikan Kesuburan Tanah Oleh Agroforestri

Prospek Pengembangan Ekowisata Kawasan Wisata Alam Laut Pulau Marsegu dan Sekitarnya

Pemanfaatan Hutan Mangrove Teluk Kotania Kabupaten Seram Barat Maluku

Menebang Hutan untuk Menyukseskan Program GERHAN

Fungsi ekosistem menunjukkan hubungan sebab akibat yang terjadi secara keseluruhan antar komponen dalam sistem. Ini jelas membuktikan bahwa ekologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari seluruh pola hubungan timbal balik antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya, serta dengan semua komponen yang ada di sekitarnya.

Adapun ekologi hutan adalah cabang dari ekologi yang khusus mempelajari ekosistem hutan. Hutan dipandang sebagai suatu ekosistem karena hubungan antara masyarakat tumbuh-tumbuhan pembentuk hutan dengan binatang liar dan alam lingkungannya sangat erat.

Hutan dipandang sebagai suatu ekosistem adalah sangat tepat, mengingat hutan itu dibentuk atau disusun oleh banyak komponen yang masing-masing komponen tidak bisa berdiri sendiri, tidak bisa dipisah-pisahkan, bahkan saling memengaruhi dan saling bergantung. Berkaitan dengan hal tersebut, perlu diperhatikan beberapa definisi tentang hutan sebagai berikut.

(1) Hutan adalah kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (UU RI No. 41 Tahun 1999).

(2) Hutan adalah lapangan yang ditumbuhi pepohonan yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya atau ekosistem (Kadri dkk., 1992).

(3) Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan yang dikuasai atau didominasi oleh pohon-pohon dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan diluar hutan (Soerianegara dan Indrawan, 1982).

(4) Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan dan binatang yang hidup dalam lapisan dan di permukaan tanah dan terletak pada suatu kawasan, serta membentuk suatu kesatuan ekosistem yang berada dalam keseimbangan dinamis (Arief, 1994).

ekologi hutan

Gambar. 1. Hutan sebagai masyarakat tumbuh-tumbuhan

2. Bidang Kajian Ekologi Hutan

Di dalam ekologi hutan ada dua bidang kajian, yaitu : Autekologi dan Sinekologi.

(1) Autekologi, yaitu ekologi yang mempelajari suatu spesies organisme atau organisme secara individu yang berinteraksi dengan lingkungannya. Contoh autekologi misalnya mempelajari sejarah hidup suatu spesies organisme, perilaku, dan adaptasinya terhadap lingkungan. Jadi, jika kita mempelajari hubungan antara pohon Pinus merkusii dengan lingkungannya, maka itu termasuk autekologi. Contoh lain adalah mempelajari kemampuan adaptasi pohon merbau (Intsia palembanica) di padang alang-alang, dan lain sebagainya.

(2) Sinekologi, yaitu ekologi yang mempelajari kelompok organisme yang tergabung dalam satu kesatuan dan saling berinteraksi dalam daerah tertentu. Misalnya mempelajari struktur dan komposisi spesies tumbuhan di hutan rawa, hutan gambut, atau di hutan payau, mempelajari pola distribusi binatang liar di hutan alam, hutan wisata, suaka margasatwa, atau di taman nasional, dan lain sebagainya.

Autekologi Sinekologi
Autekologi Sinekologi

Gambar 2. Bidang Kajian Ekologi Hutan

//
//

Dari segi autekologi, maka di hutan bisa dipelajari pengaruh suatu faktor lingkungan terhadap hidup dan tumbuhnya suatu jenis pohon yang sifat kajiannya mendekati fisiologi tumbuhan, dapat juga dipelajari pengaruh suatu faktor lingkungan terhadap hidup dan tumbuhnya suatu jenis binatang liar atau margasatwa. Bahkan dalam autekologi dapat dipelajari pola perilaku suatu jenis binatang liar, sifat adaptasi suatu jenis binatang liar, maupun sifat adaptasi suatu jenis pohon. Dari segi sinekologi, dapat dipelajari berbagai kelompok jenis tumbuhan sebagai suatu komunitas, misalnya mempelajari pengaruh keadaan tempat tumbuh terhadap komposisi dan struktur vegetasi, atau terhadap produksi hutan. Dalam ekosistem hutan itu bisa juga dipelajari pengaruh berbagai faktor ekologi terhadap kondisi populasi, baik populasi tumbuhan maupun populasi binatang liar yang ada di dalamnya. Akan tetapi pada prinsipnya dalam ekologi hutan, kajian dari kedua segi (autekologi dan sinekologi) itu sangat penting karena pengetahuan tentang hutan secara keseluruhan mencakup pengetahuan semua komponen pembentuk hutan, sehingga kajian ini diperlukan dalam pengelolaan sumber daya hutan.

3. Ilmu – ilmu yang berkaitan

Mempelajari ekologi hutan merupakan kegiatan manusia secara menyeluruh dengan tujuan mengarahkan atau memelihara ekosistem hutan dalam keadaan yang memungkinkan untuk selalu bisa dijadikan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan manusia sepanjang masa. Mengingat hutan merupakan suatu ekosistem, dan setiap ekosistem apa pun dibentuk oleh banyak komponen baik komponen hayati maupun komponen nonhayati, maka semua informasi tentang masing masing komponen sangat penting, dan untuk itu diperlukan bidang ilmu yang relevan terhadap kajian komponen ekosistem. Oleh karena itu, beberapa bidang ilmu yang relevan dengan ekologi hutan diuraikan sebagai berikut (Arief, 1994; Soerianegara dan Indrawan, 1982).

1. Taksonomi Tumbuh-tumbuhan
Spesies pohon dan tumbuh-tumbuhan lainnya dalam hutan sangat beranekaragam, dibutuhkan pengenalan sifat generatif yang berdasar pada sifat-sifat bunga dan buah. Untuk itu diperlukan buku-buku praktis mengenai flora dan pengenalan spesies pohon. Berdasarkan pengalaman di lapangan, seringkali dijumpai pohon pohon yang dalam keadaan sedang tidak berbunga atau berbuah, sehingga pengenalan sifat vegetatif sebagai alternatif pengganti sangat diperlukan. Indonesia dikenal karena hutannya kaya flora, akan tetapi pengenalan terhadap pohon dan spesies tumbuhan lainnya masih sangat kurang. Di hutan Indonesia diprakirakan ada lebih kurang 4.000 spesies pohon, tetapi spesies-spesies pohon itu belum dicakup secara rinci dalam buku buku tentang flora. Oleh karena itu, pengenalan jenis pohon masih bergantung kepada jasa dari orang-orang yang tinggal di daerah setempat, juga dengan cara mengoleksi contoh organ tumbuhan untuk dideterminasi yang kemudian disusun daftar nama pohon berdasarkan daerah asalnya. Cara demikian dapat membantu dan mempermudah studi komunitas tumbuhan dan kegiatan inventarisasi hutan.

2. Geologi dan Geomorfologi
Geologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk batuan, lapisan-lapisan batuan, dan fosil yang terdapat di dalam bumi. Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk permukaan bumi termasuk proses dan evolusi pembentukannya. Keadaan geologi dan geomorfologi sangat memengaruhi keadaan hutan. Pada kondisi iklim yang sama, jenis-jenis batuan yang berbeda akan menghasilkan jenis tanah yang berbeda. Pada jenis tanah tertentu juga akan menghasilkan tipe komunitas tumbuhan tertentu. Demikian pula kondisi topografi dan relief mempengaruhi komposisi dan struktur hutan karena kondisi topografi dan relief yang berbeda akan menyebabkan perbedaan pada kesuburan tanah dan kondisi air tanah. Selain itu, perbedaan letak suatu tempat (ketinggian tempat dari permukaan laut) akan menyebabkan perbedaan iklim dan berpengaruh terhadap penyebaran tumbuhan.

3. Ilmu Tanah
Tanah adalah tubuh alam (bumi) yang berasal dari berbagai campuran hasil pelapukan oleh iklim dan terdiri atas komposisi bahan organik dan anorganik yang menyelimuti bumi, sehingga mampu menyediakan air, udara, dan hara bagi tumbuhan, serta sebagai tempat berdiri tegaknya tumbuh-tumbuhan. Ilmu tanah murni sering disebut pedologi, sedangkan ilmu yang mempelajari tanah dari sudut pandang sebagai faktor tempat tumbuh disebut edafologi. Kesuburan tanah mempengaruhi keadaan tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di atasnya. Kesuburan tanah akan berpengaruh terhadap tipe vegetasi yang terbentuk serta berpengaruh terhadap keproduktifan hutan. Oleh karena itu, tanah merupakan salah satu faktor pembatas alam yang memengaruhi pertumbuhan semua spesies tumbuhan, struktur, dan komposisi vegetasi, sehingga akan berpengaruh terhadap tipe hutannya.

4. Klimatologi
Salah satu faktor penting yang memengaruhi penyebaran dan pertumbuhan tumbuh-tumbuhan adalah iklim. Unsur-unsur iklim seperti temperatur, curah hujan, kelembapan, dan tekanan nap air berpengaruh terhadap pertumbuhan pohon. Pengaruh iklim terhadap kehidupan tumbuh-tumbuhan sangat nyata, terlebih lagi iklim mikro di suatu tempat yang bergantung kepada keadaan topografi dan kondisi atmosfer karena kondisi atmosfer juga ikut menentukan sifat iklim setempat dan regional. Adanya perbedaan iklim akan menimbulkan variasi dalam formasi hutan (Arief,1994). Sebaliknya kondisi vegetasi atau komunitas tumbuhan hutan juga memengaruhi atau mengendalikan perubahan terhadap unsur-unsur iklim, sehingga dapat dikatakan bahwa kondisi iklim lokal sangat bergantung kepada kondisi vegetasi yang ada.

5. Genetika
Ilmu genetika mempunyai peranan besar dalam memahami pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Pengaruh genetik dari tumbuhan yang satu terhadap tumbuhan lainnya dapat diketahui dengan ilmu genetika. Apabila ada dua atau lebih tumbuhan yang hidup berdekatan akan menyebabkan terjadinya perkawinan silang atau hibridisasi di antara mereka. Akibat dari perkawinan silang ini akan muncul keturunan baru yang memiliki sifat hampir sama dengan kedua induknya. Untuk itu, pengetahuan tentang genetika diperlukan dalam mengenal sifat-sifat berbagai spesies tumbuhan dan makhluk hidup yang lain termasuk sifat-sifat ekologinya.

6. Geografi Tumbuhan
Dulunya ilmu ekologi, ekologi tumbuhan merupakan cabang dari ilmu geografi tumbuhan (phytogeography) yang membahas pengaruh faktor lingkungan terhadap penyebaran tumbuhan. Dari sudut pandang aspek komunitas tumbuhan, ekologi hutan sama dengan ekologi tumbuhan. Akan tetapi dari sudut pandang ekosistem, maka ekologi hutan memiliki cakupan yang lebih luas dari ekologi tumbuhan. Oleh karena itu, ekologi hutan sangat berkaitan dengan ilmu geografi tumbuhan mengingat pola penyebaran berbagai Spesies pohon perlu diketahui dalam kaitannya dengan perbedaan kondisi fisik bumi, kondisi iklim, geomorfologi, dan kondisi fisiografi. Ini semua diperlukan karena sangat membantu dalam mempelajari susunan dan penyebaran formasi hutan.

7. Fisiologi dan Biokimia
Kajian dari segi autekologi terhadap makhluk hidup yang ada di dalam hutan hampir sama dengan kajian fisiologi (fisiologi tumbuhan maupun fisiologi hewan). Telah dikemukakan bahwa fisiologi mempelajari proses kerja yang terjadi dalam tubuh organisme. Salah satu proses yang terjadi di dalam tubuh organisme ada proses yang bersifat kimia yang dinamakan proses biokimia. Sebagai contoh pengetahuan tentang proses pembentukan resin pada pohon anggota genus Pinus, pembentukan damar pada pohon anggota famili Dipterocarpaceae, pembentukan lateks pada pohon Hevea brassiliensis, Dyera costulata, pembentukan kopal pada pohon anggota genus Agathis, pembentukan kemenyan pada pohon Styrax benzoin, dan pengetahuan tentang proses biokimia lainnya sangat diperlukan. Hal ini dimaksudkan agar dapat diketahui unsur-unsur lingkungan apa yang berpengaruh terhadap produksi resin, damar, lateks, kopal, atau kemenyan.

PUSTAKA :

Soerianegara, I dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Kusmana & Istomo, 1995. Ekologi Hutan : Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Indriyanto, 2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara. Jakarta.
Richard & Steven, 1988. Forest Ecosystem : Academic Press. San Diego. California.
Arief, A. 1994, Hutan Hakekat dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan. Yayasan Obor Indonesia Jakarta.

STRUKTUR HUTAN

Posted: Maret 27, 2010 in kayu komersial

2.1. Ekosistem Hutan Hujan
Hutan Hujan Tropis adalah suatu masyarakat kompleks merupakan tempat yang
menyediakan pohon dari berbagai ukuran. Dalam buku ini istilah kanopi hutan digunakan sebagai
suatu yang umum untuk menjelaskan masyarakat tumbuhan keseluruhan di atas bumi. Di dalam
kanopi iklim micro berbeda dengan diluarnya; cahaya lebih sedikit, kelembaban sangat tinggi, dan
temperatur lebih rendah. Banyak dari pohon yang lebih kecil berkembang dalam naungan pohon
yang lebih besar di dalam iklim mikro inilah terjadi pertumbuhan. Di atas bentuk pohon dan dalam
iklim mikro dari cakupan pertumbuhan kanopi dari berbagai jenis tumbuhan lain: pemanjat,
epiphytes, mencekik, tanaman benalu, dan saprophytes.
Pohon dan kebanyakan dari tumbuhan lain berakar pada tanah dan menyerap unsur hara dan
air. Daun-Daun yang gugur, Ranting, Cabang, dan bagian lain yang tersedia; makanan untuk
sejumlah inang hewan invertebrata, yang penting seperti rayap, juga untuk jamur dan bakteri.
Unsur hara dikembalikan ke tanah lewat pembusukan dari bagian yang jatuh dan dengan pencucian
dari daun-daun oleh air hujan. Ini merupakan ciri hutan hujan tropis yang kebanyakan dari gudang
unsur hara total ada dalam tumbuhan; secara relatif kecil di simpan dalam tanah.
Di dalam kanopi hutan, terutama di hutan dataran rendah, disana hidup binatang dengan
cakupan luas, hewan veterbrata dan invertebrata, beberapa yang makan bagian tumbuhan, yang
memakan hewan. Hubungan timbal balik kompleks ada antara tumbuhan dan binatang, sebagai
contoh, dalam hubungan dengan penyerbukan bunga dan penyebaran biji. Beberapa tumbuhan,
yang disebut myrmecophytes, menyediakan tempat perlindungan untuk semut di dalam organ yang
dimodifikasi. Banyak tumbuhan, menghasilkan bahan-kimia yang berbisa bagi banyak serangga
dan cara ini untuk perlindungan diri dari pemangsaan.

Download….

Tanggal 11 Maret 2010, Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) akan melakukan kegiatan penanaman dan pemeliharaan pohon bertempat di Desa Sidodadi, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pasawaran, Propinsi Lampung Selatan.  Kegiatan ini merupakan lanjutan dari Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon (GPTPP), yang dipelopori tujuh organisasi perempuan yakni Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB), Kowani, Dharma Wanita, Tim Penggerak PKK, Bayangkari, Dharma Pertiwi, dan Aliansi Perempuan untuk Pembangunan Berkelanjutan (APPB).

Kegiatan yang mengambil tema “Penyelamatan Hutan pantai dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat” ini akan dihadiri ± 24 istri menteri KIB, istri Gubernur Lampung, istri Bupati Lampung dan masyarakat. Penanaman ini dilakukan selain mengembangkan kembali kawasan hutan di sekitar pantai, juga menyelamatkan kawasan daratan dari gelombang tinggi maupun tsunami. Pembuatan hutan pantai dapat menjadi stimulus berkembangnya dunia pariwisata,  dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Sementara secara ekologi juga akan menjaga keseimbangan perubahan iklim mikro. Dengan konsep yang melibatkan masyarakat, perekonomian warga dapat  ditingkatkan bersamaan dengan suksesnya rehabilitasi lahan. Dalam acara tersebut Departemen Kehutanan akan memberikan bantuan bibit tanaman mangrove sebanyak 5 juta untuk kegiatan GPTPP tahun 2010.

GPTPP yang telah berlangsung selama empat tahun, telah menuai  hasil yang menggembirakan. Pada 2007, gerakan yang mengambil tema Perubahan Iklim itu telah mendorong organisiasi perempuan menanam lebih dari 15 juta pohon dari rencana awal 10 juta pohon, dengan menekankan pada pemeliharaan dan penyulaman pohon yang mati. Pada 2008, pohon yang telah tertanam sebanyak tiga kali lipat dari rencana penanaman, yaitu 17 juta batang (dari rencana 5 juta batang). Jenis tanaman meliputi seperti sukun, kelapa dan tanaman pangan.